Jumat, 16 Juni 2017

7 Tahun Bersama Karya Pandji Pragiwaksono




Foto di atas berisi saya dan karya-karya dari Pandji Pragiwaksono. Jika anda pernah mendengar namanya, pasti yang terlintas dalam benak anda adalah "Stand Up Comedy". Baik sebagai komika atau juri di kompetisi SUCI Kompas TV. Tetapi, apakah anda tahu bahwa dia juga presenter, penulis, rapper, pemain film,pernah jadi penyiar radio, pemain basket, dan seorang penyerang tunggal di Bedebah FC?

Pertama kali saya mengikuti Pandji secara intensif bermula dari Twitter. Saat itu tahun 2010, saya baru saja membuat akun Twitter. Saya follow Pandji di twitter karena saya ingat ini orang pernah buat gerakan #IndonesiaUnite sebagai respon teror bom di Jakarta pada 2009. Saya pikir itu keren, karena Pandji mengajak orang banyak untuk tidak takut, mari respon terror ini dengan bersatu dan tunjukan bahwa Indonesia tidak akan goyah dengan kejadian ini.

Kemudian, kenapa saya mau mengikuti karya-karya Pandji?
  1. Konten yang dibuat Pandji baik lagu, stand up special, buku, dan film dokumenter selalu membawa “Pesan Optimisme”. Pandji ingin menularkan keyakinan bagi orang-orang yang memiliki mimpi. Tidak peduli apa latar belakang keluarga dan pendidikan anda. Jika anda punya konsep, cara kerja yang sistematis, perencanaan yang matang, dan mau kerja keras, maka anda bisa mewujudkan mimpi anda.
Apa bukti dari konten yang punya “pesan optimisme” tersebut?

Pertunjukan stand up special Bhinneka Tunggal Tawa.

Tahun 2011 adalah tahun awal meledaknya stand up comedy di Indonesia. Kompas TV juga mulai membuat kompetisi stand up comedy. Pandji berinisiatif untuk membuat show tunggal berdurasi satu jam pertama di Indonesia. Di saat komika lain baru mampu membawakan set dalam 15-30 menit. Pandji optimis bisa menggelar pertunjukan dengan durasi satu jam. 

Bahkan ia melakukannya dua kali di hari yang sama karena antusiasme penononton begitu tinggi.

Bhinneka Tunggal Tawa adalah pertunjukan spesial pertama di Indonesia dengan durasi satu jam. 

Di balik suksesnya pertunjukan yang sampai dibuat dua sesi tersebut, tersimpan cerita pahit. Setelah selesai pertunjukan, BlackBerry Pandji hilang di ruang ganti. 17 hari sebelum pertunjukan BTT, rumah Pandji kemalingan. Tapi itu tidak menyurutkan semangatnya. Malahan banyak bit-bit bertebaran yang ingin dia sampaikan di BTT.

“Tanggal 28 akan saya ungkapkan semua. Seperti pasien kepada psikiaternya”, ungkap Pandji dalam bukunya Merdeka Dalam Bercanda.

Pandji bermimpi menggelar show stand up pertama di Indonesia. Dia persiapkan set, berlatih dari satu open mic ke open mic lainnya, berkoordinasi dengan teman-temannya agar show tersebut sukses, promosi di twitter tentang show BTT, sempat kemalingan juga. Tapi Pandji jalan terus. Tetap optimis bahwa BTT bakal sukses.

And he made it.

  1. Alasan berikutnya kenapa saya mengikuti karya-karya Pandji adalah setiap saya beli tiket dan karyanya, selalu berkesan. Kesannya ada yang menyedihkan dan menggembirakan.
Tahun 2012 saya pertama kali nonton Pandji langsung pada show Merdeka Dalam Bercanda INDONESIA: Show yang berisi Konser 32 di siang hari dan Pertunjukan stand up Merdeka Dalam Bercanda pada malam harinya di Museum Nasional, Jakarta.

Cerita bermula dari perburuan tiket. Saya belum tahu bahwa para “Wongsoyudan”, penikmat karya Pandji begitu buas dalam berebut tiket. Tiket habis dalam waktu 6 jam sejak dibukanya penjualan tiket INDONESIA:

Saya cek multiply di warnet jam 1 siang, ternyata tiket habis.

Langsung sedih. L

Saya sangat menantikan show tersebut. Saya kira saya akan kehilangan momen untuk bertemu pertama kali dengan Pandji.

Syukurlah, tiket yang habis hanya tiket bundling Konser 32 dan MDB. Tiket satuan untuk menonton MDB masih dijual di waktu lain. Saya hanya membeli tiket stand up. Suasana di konser (bukan konser 32 ya) berisik banget, makanya saya ga pernah dan belum berminat dengan konser.

Saya pergi ke apartemen di Slipi untuk menukarkan e-ticket dengan tiket fisik INDONESIA:

Niat awal ingin ketemu Pandji secara dekat.

Sayang Pandji tidak ada di tempat penukaran tiket.

8 Desember 2012, hujan mengguyur Jakarta. Perjalanan saya tempuh dengan Transjakarta. Ketika sampai di Museum Nasional, ternyata masih kering. Saya sampai di Museum Nasional sore hari, sekitar 2 jam dari pertunjukan MDB.

Saya sempat mengintip konser dari kejauhan. Tetapi, saya tahu diri ga punya tiket konser dan melipir sampai waktu show MDB. Waktu salat maghrib, kami salat di mushala parkiran Museum Nasional. Imamnya, Ikang Fawzi. J

Singkat cerita, saya nonton show MDB dari bagian baris agak ke belakang. Jadi lebih banyak lihat layar besar dari pada ke panggung. 

Kemampuan act-out Pandji sangat luar biasa. Paling lucu itu pas act out satpam yang ketemu Pandji di toilet dan bilang “Ada Kena Deh”

Saya pulang dengan bahagia, walaupun tidak sempat foto bersama karena sudah sangat malam.

Keesokan harinya ada Derbi Manchester di stadion Etihad. 

Manchester United berhasil menang 2-3 lewat goal free kick Robin van Persie. 

MDB show on Saturday nightthen Manchester United won on Sunday nights.

It was the best weekend that I've ever had.

Berlanjut di tahun 2013.

Kesan lainnya adalah saat perburuan tiket Mesakke Bangsaku. Saya menabung dari jauh-jauh hari. Ketika Pandji merilis harga tiket via YouTube. Saya kaget. 

Harga paling mahal 400 ribu.

Batal rencana saya buat nonton paling depan.

Saya kira gak semahal itu.

Akhirnya saya sanggup buat beli tiket dengan harga 200 ribu.

Kesan sedihnya yaitu waktu presale dibuka tanggal 1 November 2013, Kakek saya baru saja wafat pada 31 Oktober. Ibu yang sedang dinas di Kupang, NTT langsung pulang dan sampai di rumah jam 12 malam ketika saya sedang di depan komputer memilih jenis tiket untuk show Mesakke Bangsaku.

My family was in the mourning condition. And I in front of computer was hunting the tix.

It could be worse if I didn’t get Mesakke Bangsaku’s tix. So I focused to grab the tix.

21 Desember 2013, setelah show, saya salaman dan tatap muka langsung dengan Pandji untuk pertama kali.

The mourning has gone

I met and congratulated him.

Kemudian Pandji hiatus bikin special di Indonesia.
Tahun 2014 Mesakke Bangsaku berhasil go internasional dengan bikin pertunjukan di 11 kota 7 negara.

Tidak ada karya Pandji yang bisa saya sambangi di Jakarta di tahun 2014.

Kemudian tahun 2015

Karya yang berkesan ketika Pandji bikin tur nasional “Nusantarap”
Kali ini bukan stand up. Tapi Rap tour. 

Pernah denger gak sih ada rapper yang bikin tur nasional?
Kayaknya udah lama nggak.

Pandji kembali perjuangin mimpinya untuk buat tur rap. 9 kota di Jawa-Bali.
Saya beli tiket untuk Nusantarap Jakarta.

Inilah yang berkesan.

Saya beli tiket KONSER.

Sesuatu yang saya amat jarang lakukan.
Namun apalah daya jika yang buat acara ini seorang Pandji Pragiwaksono. Kecil atau besarnya karya dia, pasti monumental.

Hari H konser saya harus tertahan di Senayan karena hujan deras. Untungnya konser belum mulai dan saya bisa nge-rap ria dari awal hingga akhir.

Konsernya di kafe, bukan di stadion atau gedung pertunjukan.
Tapi hal tersebut membuat hubungan antara Pandji dengan penikmat karyanya terutama lagunya menjadi sangat dekat.

Tahun 2016

Pandji belum ngumumin apa-apa tentang karya yang mau dia lakuin di tahun 2016.

Tapi saya prediksi, pasti ada sesuatu di tahun 2016. 
Makanya saya sempatkan nabung untuk jaga-jaga.

Dan ternyata benar. Sekitar bulan Maret, Pandji mengumumkan akan ngadain stand up special lagi.

Saya nabung untuk sejak 2015. 

Dari sebelum nonton Nusantarap Jakarta.

Pengalaman tiket Mesakke Bangsaku seharga 200 ribu tapi ga dapat DVD dibanding tiket 300 dan 400 dan dapat DVD membuat saya bertekad dan berniat beli tiket yang paling mahal.

“Tiket paling mahal pasti ada bonusnya nih” gumam saya.

Dan benar saja, tiket paling mahal ada bonus DVD seharga 300 ribu dan kesempatan prioritas foto bareng.

10 Desember 2016, Juru Bicara akhirnya datang juga.

Saya datang jam 14:30. Antre di depan pintu dan duduk di bangku baris paling depan.

Niatnya sudah ikhlas jika Pandji ingin roasting penonton, maka saya rela jadi bahan roasting
Saya baru pulang jam 2 pagi karena antre dua kali untuk foto bersama.

Saat jalan ke parkiran ada obrolan satpam yang jalan di depan saya.
Isinya kurang lebih begini

Satpam I: Itu acara apaan sih sampai jam segini?
Satpam II: Itu Si Pandji bikin acara stand up comedy
Satpam I: Malah gak ada uang lemburnya lagi

Saya dan kawan saya hanya saling melirik sambil menahan tawa mendengar keluhan satpam tersebut

Regu satpam kelelahan karena lembur, saya beserta 3000 orang lainnya pulang dengan tawa bahagia.

Satu hal yang jadi poin penting. 3000 penonton bersama regu satpam tersebut jadi bagian sejarah Juru Bicara World Tour.

Kemudian pertanyaan berikutnya.
Apa yang menempel dari karya Pandji Pragiwaksono?

Dari stand up comedy, tentu saja kemampuan act-out nya terutama ekspresi wajah yang menurut saya sangat lucu.

Bit Kena Deh di MDB, Bit Gereja Glenn sambal nunjukin tatapan kasih putih.
Bit pose foto-foto MDB, bit pemeran sinetron nangis terus shalat, dan bit ngorok, TOA masjid di Mesakke Bangsaku.

Bit tentang prostitusi di Juru Bicara juga menjadi bit yang nempel di kepala saya.

Karena saya tidak setuju dengan legalisasi prostitusi.

Salah satu karakter orang Indonesia yang saya perhatikan adalah mencari celah dari peraturan yang sudah dibuat. Legalisasi prostitusi memang berhasil di negara lain. Akan tetapi, bukan menjadi dasar yang kuat untuk melakukan hal yang sama di 
Indonesia.

Kemudian, mari lihat hal-hal yang menempel di saya dari buku yang ditulis Pandji Pragiwaksono.

Buku Nasional.Is.Me berisi tentang hal-hal dari Indonesia yang positif dan asyik. Pandji menulis pengalamannya berkunjung ke berbagai kota di Indonesia lewat perannya sebagai duta sebuah brand.

Pandji menemukan berbagai hal mulai dari Kupang yang masih tertinggal karena kesulitan air bersih. Bandung dengan kreativitas penduduknya. Semarang dengan Lawang Sewu, wisata mistis dan Masjid Agung Jateng. Surabaya dengan antusiasme warganya dengan basket yang mengalahkan Jakarta karena DBL Arena.

Nasional.Is.Me membawa pesan bahwa Indonesia punya potensi yang besar sekali jika warganya mau nemuin passion-nya, berkarya dari passion itu, dan percaya bahwa karyanya bisa buat Indonesia bangga

Buku Merdeka Dalam Bercanda berisi catatan perjalanan tumbuhnya stand up comedy di Indonesia. Pandji tulis pengalamannya bikin show BTT di buku ini. Cerita di balik produksi BTT bikin saya beli DVD BTT karena gak nonton show BTT secara langsung.

Buku Berani Mengubah menjelaskan gimana caranya kita melakukan perubahan untuk Indonesia. 

Anda gerah dengan kesenjangan di daerah anda?

Belajarlah politik.

Jadilah pemilih cerdas di setiap pemilihan caleg atau pilkada untuk tahu mana calon yang perjuangin aspirasi rakyat mana yang punya rekam jejak korupsi dan bermasalah.

Jadilah pejabat atau pemimpin yang bisa membuat peraturan-peraturan yang pro kepada rakyat miskin.

Belajarlah ekonomi

Jadilah pengusaha yang bisa membuka lapangan kerja baru bagi orang-orang di sekitar anda. Nantinya usaha tersebut bisa dilirik oleh pemerintah setempat dan anda bisa bantu pemerintah untuk atasi masalah yang ada di daerah anda.

Subsidi BBM dicabut? Jangan protes karena hanya 10% masyarakat teratas di Indonesia yang terima manfaatnya. Sekarang pemerintah lagi giat-giatnya kan bangun infrastruktur di berbagai daerah?

Ke situlah dana subsidi yang dikurangi dipakai.

Buku Indiepreneur. Saya dapatkan dari hadiah kuis pembaca Bentang Pustaka.

Hadiahnya yaitu undangan untuk hadir di launching buku Indirepenuer.

Pandji suka kejutan.

Dan siang itu ia menghadirkan Glenn Fredly sebagai kejutannya. 

Isi talkshownya ya ga jauh dari berkarya.

Tanpa dikungkung label.
Berkarya sesuai idealisme pekarya.

Buku Indipreneur adalah buku strategi pemasaran dari orang yang sudah buat dua kali world tour dan 5 album rap. Anda tidak pernah dengar lagu Pandji? Mungkin anda bukan orang yang Pandji bidik untuk menjadi penikmat. Walaupun begitu, Pandji tetap gigih memasarkan albumnya ke ceruk yang tepat sehingga ia fokus untuk memanjakan penikmat musiknya.

Pandji menulis bahwa produk atau konten yang bagus adalah dasar yang penting dari membuat sebuah karya. Karya anda harus genuine, sedikit beda, dan dipasarkan secara tepat. Dengan langkah-langkah seperti itu niscaya karya anda akan dapat tempat di pasaran.

Buku Menemukan Indonesia. Buku yang paling saya nikmati. Jika anda membaca buku ini, 100% pasti ingin keliling dunia. 
Saya sempat menangis saat membaca bagian tur ke Jepang. Jepang memiliki Pasmo dan Suica untuk memakai berbagai moda transportasi. Sesuatu yang saya anggap keren tapi saya gak tau. Makanya sedih.

Buku Menemukan Indonesia bukan hanya bercerita tentang keungulan berbagai kota di Dunia. 

Pandji menulis hal-hal yang bisa diadaptasi dari luar untuk kemajuan di Indonesia. Pandji merefleksikan berbagai keunikan dari luar dengan keadaan di Indonesia. 

Contohnya berbagai larangan di Singapura yang cukup efektif diterapkan di sana. Namun jika kita refleksikan dengan aturan larangan di Indonesia, hasilnya terbalik. 

Larangan tidak cukup efektif dalam memberantas masalah-masalah sosial di Indonesia

Buku Juru Bicara. Buku yang awalnya saya ragu untuk memilikinya. 

Karena isinya kumpulan tulisan dari blog pandji.com yang juga saya sering baca. 

Namun, saya berubah pikiran ketika datang ke Grand Indonesia pada acara launching buku Juru Bicara. 

Niat awalnya ketemu Pandji, dan berujung beli bukunya J

Isi yang paling menempel adalah bab “Diingat Indonesia ketika masih Muda saja” Indonesia anak-anak mudanya punya banyak potensi. Siapa sangka bahwa Angelique Widjaja adalah juara turnamen tenis Wimbledon junior?

Saya baru tahu setelah baca blog Pandji. 

Apakah prestasi tersebut mengantar Angelique menjadi petenis papan atas dunia dan terkenal? Jawabannya sayang sekali: Tidak.

Salah siapa prestasi di tingkat junior tidak bisa berlanjut ke tingkat senior?
Pandji menulis bahwa praktik yang busuk menyebabkan orang-orang di Indonesia banyak yang ambil jalan belakang.

 Jalan belakang diambil karena jalan yang sebenarnya masih berlubang, gelap, dll. Sehingga orang yang ingin merintis karier professional baik atlet, ilmuwan, seniman, dll bingung mesti ke mana karena jalan aslinya belum siap.

Akhirnya mereka di luar negeri lebih mudah meraih sukses karena jalannya sudah siap untuk membuat mereka lepas landas.

Dan teryanta, wsydnshop.comPandji juga buat komik lho.

Bareng Shani Budi Pandita dia bikin Komik Degalings.

Yang paling nempel waktu Jamie (aka Dipo) selalu anggep Ayahnya sebagai babi angry birds. Peace, Bang Pandji hehe.

Kemudian hal yang menempel dari karya Pandji yang lain. Album rap-nya

Album Provocative Proactive ada lagu yang judulnya “Atas Nama Kebenaran”

Pandji mencurahkan unek-uneknya tentang polisi yang kesannya menjebak di ujung jalan, bukan mengingatkan di awal jalan.

Lalu lagu “Dulu dia bukan siapa-siapa” yang liriknya berbunyi
“sukses gue akan buat orang suatu hari berbicara…”

Dulu Pandji banyak dianggap remeh dan mendapat bully, tapi sekarang?

Ya anda tahulah apa jawabannya.

Lagu Penasaran ft Ichsan Akbar dalam album kedua Pandji bercerita tentang rasa penasaran seorang lelaki untuk mendekati gadis yang sudah punya pasangan J

“Lagu Melayu” di album Merdesa adalah salah satu hits Pandji. 

Liriknya tentang keindahan kota-kota di Indonesia ingin mengajak anda bahwa Indonesia tidak seperti yang diberitakan di tv yang banyak masalahnya.

Lagu GR adalah lagu favorit saya di album 32. 

Pria yang sukses bertubuh tambun ternyata lebih disukai daripada pria yang langsing.

Kemudian lagu The Broken Hearted di album Pemanasan. 

Lagu itu seakan membungkam orang-orang yang hanya bisa nyinyir terhadap karya-karya Pandji. Sedangkan Pandji sudah berkelana keliling dunia.

Karya Pandji gak cuma album, stand up special, dan DVD lho.

Ada pernak-pernik juga.

Kamu bisa beli luggage tag, magnet kulkas, bantal, tote bag, mug, tumbler, kaos, hoodie, jaket, topi, dan casing HP di wsydnshop.com

Saya beli luggage tag Juru Bicara karena saya pikir keren aja pakai sesuatu yang useful buat travel dan saya juga punya kaos “Madeu Pakeu” yang jadi bit di Mesakke Bangsaku

Biar orang tanya. Juru Bicara itu apa sih? Madeu Pakeu.. Paan tuh?

Sesuatu yang pasti mengundang tanya.

Sehingga saya bisa promosi karya Pandji ke orang lain J

Itulah cerita saya tentang hal yang nempel dari karya Pandji dan gimana kesannya ngikutin Pandji selama 7 tahun.

Semoga Pandji Pragiwaksono terus punya karya yang selalu menyemangati orang 
yang punya mimpi.

PS: Semoga impian punya Menara Wongsoyudan terwujud ya, Bang Pandji. Aamiin.


Selasa, 03 Januari 2017

Underestimated Person Thoughts: Gue dan Transportasi Umum (Bagian 1)

Bicara tentang transportasi umum, gue mau cerita tentang moda transportasi yang sedang gue gandrungi sekitar 3 tahun belakangan. Btw, ini adalah  bagian pertama tulisan gue yang bicara tentang transportasi umum, Mulai dari KRL, kereta jarak jauh, terus pesawat terbang J

Dimulai dari medio 2013. Saat itu gue baru lulus dari SMA. Singkat cerita, gue berkuliah di kampus yang sebagian besar warganya pakai KRL sebagai transportasi utama menuju kampus.

Pertama kali naik KRL, itu waktu SD. Pintunya kebuka (baca: gak berfungsi), tukang sapu berkeliaran, pengemis, dan segalah hal menyedihkan lainnya ada di dalam KRL. Naik KRL ke rumah budeh yang ada di Bekasi. Pernah juga naik KRL dari Kota setelah sebelumnya nyobain Transjakarta dari Blok M.

Momen daftar ulang ke kampus di Juli 2013 itu sekaligus mempertemukan gue lagi dengan KRL. Sebelumnya, gue nggak terlalu sering naik KRL. Apa lagi saat SMP dan SMA. Sekolah gue dulu cukup dijangkau dengan angkot dan metro mini seakan memisahkan gue dengan KRL. Mungkin teman gue pas SMP dan SMA yang bertempat tinggal di Bintara, Cakung, dan Bekasi lebih meresap di kenangannya tentang perjuangan naik KRL.
Singkat cerita, setelah beberapa kali pergi-pulang dari rumah ke kampus naik KRL gue mulai browsing tentang KRL. Mulai dari jenis kereta apa saja yang pernah melintas di atas rel Jabodetabek, hingga sejarah KRL dari tahun 1970. Nah, jenis-jenis KRL ini yang paling membuat gue penasaran. Ada yang buatan Belanda, Korea, Jepang, hingga kereta buatan Indonesia.

Cerita dari kereta buatan Belanda. Namanya KRL Holec. Yang paling gue ingat dari KRL ini adalah suku cadangnya yang sulit didapat sehingga dipensiunkan lebih awal daripada kereta veteran lainnya. Terus ada kereta dari Jepang. Our truly (dump) partner in electric train universe. Kereta buatan Jepangjadi kereta non AC terakhir yang digunakan PT KCJ. Medio 2013 (sebelum gue masuk kuliah)  PT KCJ memutuskan untuk mengganti semua rangkaian non AC ke rangkaian AC.

Kemudian nonton banyak video tentang KRL di Jakarta. Sampai ada juga kereta di daerah yang fungsinya sama seperti di Jabodetabek. Tapi bedanya di daerah lebih banyak pakai KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik). Gue nontonin semua jenis kereta AC yang ada di Jabodetabek.

Saat ini, pertumbuhan KRL bisa dibilang cukup pesat. Mulai dari armada, stasiun, dan fasilitas lainnya. Di Cikarang, Bekasi, Cipinang, hingga Manggarai juga lagi ada proyek DDT (double-double track). Entah kenapa pemilihan katanya kaya gitu. Emangnya pimpinan proyeknya  pada gak tau apa bahwa DDT itu racun serangga?

Intinya, gue merasa kalua KRL itu bukan hanya sekedar kereta yang digunakan untuk mindahin ribuan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Senin-Jumat, setiap orang pemakai rutin KRL pasti menghabiskan waktu 30 menit sampai 1,5 jam di stasiun maupun di dalam kereta, Ambil rerata dua jam (pergi dan pulang) selama lima hari. Sepuluh jam per pekan lo di dalam KRL. Setidaknya lo bisa lebih menghargai kehadiran mereka yang bukan sekedar alat transportasi.


PS: Gue sempat membuat makalah tentang KRL Jabodetabek sebagai tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia Akademik. Yaa hitung-hitung sebagai rasa penghargaan gue buat KRL. 

Yang tertarik mau baca makalah gue tentang KRL, silahkan kontak gue di: wahyuputra191@gmail.com

Kamis, 11 Agustus 2016

Pentingnya Aplikasi Perpustakaan Digital sebagai Pendorong Minat Baca dan Literasi Informasi

       Theodor Seuss, seorang penulis cerita anak kenamaan asal Amerika Serikat memiliki pernyataan yang cukup menarik mengenai kegiatan membaca. “The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you will go.” Singkatnya saya terjemahkan berikut ini (Semakin sering anda membaca, semakin banyak hal yang anda tahu. Semakin banyak anda belajar, semakin banyak tempat anda kunjungi). Theodor Seuss, yang terkenal dengan nama panggung Dr. Seuss, berpesan kepada khalayak ramai bahwa kegiatan membaca sama sekali bukan kegiatan yang membosankan.
            Membaca adalah awal dari kegiatan yang menyenangkan.
Di akhir pernyataannya, Theodor Seuss mengemukakan bahwa seseorang bisa pergi ke berbagai tempat. Pergi ke berbagai tempat merupakan kegaitan yang mengasyikan bukan? Akan tetapi, sebelum bisa pergi ke suatu tempat kita butuh informasi tentang tempat yang akan kita tuju.
Transportasi, ongkos, tiket, dan hal lainnya adalah hal-hal yang kita dapatkan dengan membaca informasi. Baik informasi dari majalah, travelogue, blog, dll. Untuk sekedar berpergian dan melakukan hal yang menyenangkan, agar perjalanan berlangsung lancar harus dimulai dengan membaca.
Ini adalah contoh kecil dari besarnya manfaat membaca di kehidupan sehari-hari.
Dikutip dari tulisan Syahrudin El-Fikri, seorang jurnalis republika.com bahwa hasil survey UNESCO pada 2011 menunjukan indeks tingkat membaca Indonesia hanya 0,001 persen. Dari 1000 orang, hanya 1 (satu) orang yang memiliki keinginan membaca secara serius.
 Itu data lima tahun yang lalu. Sampai saat ini saya belum memperoleh data baru dari UNESCO. Hanya mengharapkan angka survey tersebut menjadi membaik bukanlah sesuatu yang bisa berdampak signifikan.
Perlu ada usaha, dan perjuangan. Minimal, dimulai dari pribadi masing-masing.
Perjuangan untuk meningkatkan minat baca menghadapi hal lain, yaitu perkembangan tekonologi yang semakin pesat. Perkembangan teknologi saat ini membuka dua kemungkinan:
1.      Ancaman terhadap perjuangan meningkatkan minat baca
2.      Peluang kolaborasi antara literatur dan teknologi terhadap perjuangan meningkatkan minat baca
Perkembangan teknologi memungkinkan setiap insan di jagat bumi mendapatkan berbagai hiburan dari hadirnya televisi, smartphone, laptop, tablet, dll. Lilis seorang yang bermukim di Ciamis, melalui gawai dalam bentuk ponsel pintar yang juga memiliki koneksi internet dapat dengan mudah mengakses video drama Korea.
 Cara menikmatinya bisa mengakses laman YouTube atau laman lainnya yang bahkan menawarkan unduhan agar bisa menabung video tersebut untuk ditonton setelah pulang sekolah. Teknologi memungkinkan seseorang untuk mengakses konten apapun dengan mudah. Ilustrasi tadi hanyalah contoh jika kita melihat perkembangan teknologi dari perspektif “ancaman”.
   Lain halnya dengan Donni, seorang pegawai di sebuah bank di Jakarta Ia lebih sering membaca berita, buku digital, dan blog, tentang dunia perbankan melalui gawai dan perangkat komputer di kantornya.
Kedua ilustrasi di atas tidak bermaksud menggambarkan kondisi penggunaan teknologi saat ini secara menyeluruh. Akan tetapi, kedua contoh di atas merupakan contoh kebanyakan yang terjadi di era global saat ini. Diperlukan berbagai macam usaha agar tendensi penggunaan berbagai perangkat teknologi yang ada pada saat ini, mampu untuk meningkatkan minat baca.
Saya akan mencoba menguraikan usaha Pemprov DKI Jakarta untuk meningkatkan minat baca warganya.
Saya mencoba untuk mencari data mengenai indeks baca di berbagai kota di Indonesia. Saya ingin mengambil contoh dari indeks membaca di wilayah Jakarta. Dilansir dari laman bpadjakarta.net, saya malah mendapatkan indeks untuk wilayah Yogyakarta. Warga Yogyakarta memiliki indeks tertinggi di Indonesia, sebesar 0,09 persen. Pantas jika Yogyakarta dijuluki sebagai “Kota Pelajar”.
Anehnya, saya tidak mendapatkan indeks membaca wilayah Jakarta di situs yang dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta. Saya berasumsi indeks membaca untuk wilayah Jakarta di atas 0,05. Angka-angka tersebut masih jauh dari indeks membaca negara-negara maju yang mencapai 0,45.
Berbagai inovasi dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mendorong minat baca warganya. Saya masih ingat sewaktu duduk di bangku sekolah dasar dulu setiap hari Selasa ada mobil perpustakaan keliling yang singgah di sekolah saya.
Waktu singgahnya tepat pada saat jam istirahat. Menggunakan mobil legendaris, Toyota Kijang kapsul. Jenis mobil yang banyak digunakan untuk kemaslahatan umat di Indonesia ini disulap menjadi mobil yang berisi buku-buku bacaan yang mampu menjangkau setiap sekolah di Jakarta.
Mengaca dari mirisnya indeks membaca tersebut, diperlukan kolaborasi antara teknologi informasi dan sistem literasi. Perkembangan teknologi informasi saat ini seharusnya dijadikan peluang untuk mendorong minat baca.
Di era perkembangan teknologi saat ini, Pemprov DKI Jakarta pada kuartal keempat di tahun 2015 meluncurkan aplikasi iJakarta sebagai upaya meningkatkan minat baca warga Jakarta. Saya rasa, aplikasi ini bukan hanya diperuntukan untuk warga Jakarta saja. Setiap orang yang punya akses internet bisa mendapatkannya dengan cara mengunduhnya lewat gawai berbasis Android, iOS, dan PC.
Apa sih iJakarta itu?
Menurut saya iJakarta adalah kumpulan perpustakaan digital yang berada di lingkup Pemprov DKI Jakarta. Fungsi utamanya adalah tempat meminjam buku digital. Tapi, iJakarta juga punya fungsi yang mungkin tidak dimiliki oleh perpustakaan konvensional. IJakarta berisi perpustakaan-perpustakaan yang berada di lingkup Pemprov DKI Jakarta yang koleksi bukunya terbatas. Kamu juga bisa berkontribusi dengan menyumbangkan buku di perpustakaan digital tertentu yang ada di iJakarta.
IJakarta mampu berfungsi sebagai media sosial juga. Pengguna akun iJakarta bisa follow pengguna iJakarta lainnya.  Selain itu, bisa juga tulis review atau resensi buku yang ada di koleksi iJakarta. Lewat iJakarta, Pemprov DKI Jakarta berniat untuk memberi kemudahan bagi siapapun untuk membaca buku di manapun dan kapanpun.
***
Saya melihat upaya ini bukan hanya untuk mendorong minat baca semata. IJakarta adalah upaya untuk memperkenalkan literasi informasi yang sangat penting digunakan di era misinformasi.
Literasi informasi adalah cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang sesungguhnya. Saat ini banyak beredar informasi-informasi yang tidak jelas sumber dan referensinya. Informasi tersebut sangat diragukan validitas dan keabsahannya, sehingga bisa menimbulkan “sesat pikir”. Informasi yang tidak jelas kebenarannya sangat berbahaya jika yang mengkonsumsinya membagikan informasi invalid tersebut kepada khalayak ramai.
Melalui iJakarta, literasi informasi secara tidak sadar digunakan oleh para penggunanya. Literasi informasi yang jika disadari keuntungannya, maka akan berdampak sangat baik. Penguna iJakarta mampu mencari informasi yang jelas referensi dan validitasnya. Pengguna mampu mencari informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien. IJakarta, diharapkan secara tidak langsung dapat mengurangi perilaku negatif seperti tawuran, clubbing, atau obrolan di kafe tanpa arah diskusi yang jelas,
Pemprov DKI seharusnya membuat koleksi buku di iJakarta lebih banyak lagi. Kuota 5 buku perjudul saya rasa masih kurang untuk memenuhi dahaga literasi warga Jakarta. Koleksi yang diminati adalah novel fiksi. Saya mencoba meminjam, namun berakhir hampa di antrian ke-1100 sekian.
Saya rasa masalah yang dihadapi iJakarta adalah kurang gencarnya promosi yang dilakukan. Perjuangan untuk mendongkrak minat baca adalah satu hal, dan mendorong popularitas iJakarta adalah hal lain. Akan tetapi, saya yakin kedua hal yang berneda itu berkesinambungan dan hasil keluaran yang diinginkan adalah sama. Mewujudkan warga yang memiliki kebudayaan dan minat yang tinggi terhadap kegiatan membaca.
Dengan kolaborasi antara teknologi informasi, literatur, dan promosi yang tepat, saya yakin iJakarta mampu menjadi alternatif untuk mendorong minat membaca. Pengadaan perpustakaan baik yang berwujud keliling atau yang berwujud bangunan seperti gedung atau taman bacaan, tetap harus dilanjutkan.


Artikel di atas ditulis untuk mengikuti lomba konten blog dalam rangka HANJABA (Hari Anak Jakarta Membaca) 2016 yang diselenggarakan oleh Kantor Perpustakaan  dan Arsip Kota Administratif Jakarta Pusat