Selasa, 03 Januari 2017

Underestimated Person Thoughts: Gue dan Transportasi Umum (Bagian 1)

Bicara tentang transportasi umum, gue mau cerita tentang moda transportasi yang sedang gue gandrungi sekitar 3 tahun belakangan. Btw, ini adalah  bagian pertama tulisan gue yang bicara tentang transportasi umum, Mulai dari KRL, kereta jarak jauh, terus pesawat terbang J

Dimulai dari medio 2013. Saat itu gue baru lulus dari SMA. Singkat cerita, gue berkuliah di kampus yang sebagian besar warganya pakai KRL sebagai transportasi utama menuju kampus.

Pertama kali naik KRL, itu waktu SD. Pintunya kebuka (baca: gak berfungsi), tukang sapu berkeliaran, pengemis, dan segalah hal menyedihkan lainnya ada di dalam KRL. Naik KRL ke rumah budeh yang ada di Bekasi. Pernah juga naik KRL dari Kota setelah sebelumnya nyobain Transjakarta dari Blok M.

Momen daftar ulang ke kampus di Juli 2013 itu sekaligus mempertemukan gue lagi dengan KRL. Sebelumnya, gue nggak terlalu sering naik KRL. Apa lagi saat SMP dan SMA. Sekolah gue dulu cukup dijangkau dengan angkot dan metro mini seakan memisahkan gue dengan KRL. Mungkin teman gue pas SMP dan SMA yang bertempat tinggal di Bintara, Cakung, dan Bekasi lebih meresap di kenangannya tentang perjuangan naik KRL.
Singkat cerita, setelah beberapa kali pergi-pulang dari rumah ke kampus naik KRL gue mulai browsing tentang KRL. Mulai dari jenis kereta apa saja yang pernah melintas di atas rel Jabodetabek, hingga sejarah KRL dari tahun 1970. Nah, jenis-jenis KRL ini yang paling membuat gue penasaran. Ada yang buatan Belanda, Korea, Jepang, hingga kereta buatan Indonesia.

Cerita dari kereta buatan Belanda. Namanya KRL Holec. Yang paling gue ingat dari KRL ini adalah suku cadangnya yang sulit didapat sehingga dipensiunkan lebih awal daripada kereta veteran lainnya. Terus ada kereta dari Jepang. Our truly (dump) partner in electric train universe. Kereta buatan Jepangjadi kereta non AC terakhir yang digunakan PT KCJ. Medio 2013 (sebelum gue masuk kuliah)  PT KCJ memutuskan untuk mengganti semua rangkaian non AC ke rangkaian AC.

Kemudian nonton banyak video tentang KRL di Jakarta. Sampai ada juga kereta di daerah yang fungsinya sama seperti di Jabodetabek. Tapi bedanya di daerah lebih banyak pakai KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik). Gue nontonin semua jenis kereta AC yang ada di Jabodetabek.

Saat ini, pertumbuhan KRL bisa dibilang cukup pesat. Mulai dari armada, stasiun, dan fasilitas lainnya. Di Cikarang, Bekasi, Cipinang, hingga Manggarai juga lagi ada proyek DDT (double-double track). Entah kenapa pemilihan katanya kaya gitu. Emangnya pimpinan proyeknya  pada gak tau apa bahwa DDT itu racun serangga?

Intinya, gue merasa kalua KRL itu bukan hanya sekedar kereta yang digunakan untuk mindahin ribuan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Senin-Jumat, setiap orang pemakai rutin KRL pasti menghabiskan waktu 30 menit sampai 1,5 jam di stasiun maupun di dalam kereta, Ambil rerata dua jam (pergi dan pulang) selama lima hari. Sepuluh jam per pekan lo di dalam KRL. Setidaknya lo bisa lebih menghargai kehadiran mereka yang bukan sekedar alat transportasi.


PS: Gue sempat membuat makalah tentang KRL Jabodetabek sebagai tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia Akademik. Yaa hitung-hitung sebagai rasa penghargaan gue buat KRL. 

Yang tertarik mau baca makalah gue tentang KRL, silahkan kontak gue di: wahyuputra191@gmail.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar