Kamis, 11 Agustus 2016

Pentingnya Aplikasi Perpustakaan Digital sebagai Pendorong Minat Baca dan Literasi Informasi

       Theodor Seuss, seorang penulis cerita anak kenamaan asal Amerika Serikat memiliki pernyataan yang cukup menarik mengenai kegiatan membaca. “The more that you read, the more things you will know. The more that you learn, the more places you will go.” Singkatnya saya terjemahkan berikut ini (Semakin sering anda membaca, semakin banyak hal yang anda tahu. Semakin banyak anda belajar, semakin banyak tempat anda kunjungi). Theodor Seuss, yang terkenal dengan nama panggung Dr. Seuss, berpesan kepada khalayak ramai bahwa kegiatan membaca sama sekali bukan kegiatan yang membosankan.
            Membaca adalah awal dari kegiatan yang menyenangkan.
Di akhir pernyataannya, Theodor Seuss mengemukakan bahwa seseorang bisa pergi ke berbagai tempat. Pergi ke berbagai tempat merupakan kegaitan yang mengasyikan bukan? Akan tetapi, sebelum bisa pergi ke suatu tempat kita butuh informasi tentang tempat yang akan kita tuju.
Transportasi, ongkos, tiket, dan hal lainnya adalah hal-hal yang kita dapatkan dengan membaca informasi. Baik informasi dari majalah, travelogue, blog, dll. Untuk sekedar berpergian dan melakukan hal yang menyenangkan, agar perjalanan berlangsung lancar harus dimulai dengan membaca.
Ini adalah contoh kecil dari besarnya manfaat membaca di kehidupan sehari-hari.
Dikutip dari tulisan Syahrudin El-Fikri, seorang jurnalis republika.com bahwa hasil survey UNESCO pada 2011 menunjukan indeks tingkat membaca Indonesia hanya 0,001 persen. Dari 1000 orang, hanya 1 (satu) orang yang memiliki keinginan membaca secara serius.
 Itu data lima tahun yang lalu. Sampai saat ini saya belum memperoleh data baru dari UNESCO. Hanya mengharapkan angka survey tersebut menjadi membaik bukanlah sesuatu yang bisa berdampak signifikan.
Perlu ada usaha, dan perjuangan. Minimal, dimulai dari pribadi masing-masing.
Perjuangan untuk meningkatkan minat baca menghadapi hal lain, yaitu perkembangan tekonologi yang semakin pesat. Perkembangan teknologi saat ini membuka dua kemungkinan:
1.      Ancaman terhadap perjuangan meningkatkan minat baca
2.      Peluang kolaborasi antara literatur dan teknologi terhadap perjuangan meningkatkan minat baca
Perkembangan teknologi memungkinkan setiap insan di jagat bumi mendapatkan berbagai hiburan dari hadirnya televisi, smartphone, laptop, tablet, dll. Lilis seorang yang bermukim di Ciamis, melalui gawai dalam bentuk ponsel pintar yang juga memiliki koneksi internet dapat dengan mudah mengakses video drama Korea.
 Cara menikmatinya bisa mengakses laman YouTube atau laman lainnya yang bahkan menawarkan unduhan agar bisa menabung video tersebut untuk ditonton setelah pulang sekolah. Teknologi memungkinkan seseorang untuk mengakses konten apapun dengan mudah. Ilustrasi tadi hanyalah contoh jika kita melihat perkembangan teknologi dari perspektif “ancaman”.
   Lain halnya dengan Donni, seorang pegawai di sebuah bank di Jakarta Ia lebih sering membaca berita, buku digital, dan blog, tentang dunia perbankan melalui gawai dan perangkat komputer di kantornya.
Kedua ilustrasi di atas tidak bermaksud menggambarkan kondisi penggunaan teknologi saat ini secara menyeluruh. Akan tetapi, kedua contoh di atas merupakan contoh kebanyakan yang terjadi di era global saat ini. Diperlukan berbagai macam usaha agar tendensi penggunaan berbagai perangkat teknologi yang ada pada saat ini, mampu untuk meningkatkan minat baca.
Saya akan mencoba menguraikan usaha Pemprov DKI Jakarta untuk meningkatkan minat baca warganya.
Saya mencoba untuk mencari data mengenai indeks baca di berbagai kota di Indonesia. Saya ingin mengambil contoh dari indeks membaca di wilayah Jakarta. Dilansir dari laman bpadjakarta.net, saya malah mendapatkan indeks untuk wilayah Yogyakarta. Warga Yogyakarta memiliki indeks tertinggi di Indonesia, sebesar 0,09 persen. Pantas jika Yogyakarta dijuluki sebagai “Kota Pelajar”.
Anehnya, saya tidak mendapatkan indeks membaca wilayah Jakarta di situs yang dikelola oleh Pemprov DKI Jakarta. Saya berasumsi indeks membaca untuk wilayah Jakarta di atas 0,05. Angka-angka tersebut masih jauh dari indeks membaca negara-negara maju yang mencapai 0,45.
Berbagai inovasi dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mendorong minat baca warganya. Saya masih ingat sewaktu duduk di bangku sekolah dasar dulu setiap hari Selasa ada mobil perpustakaan keliling yang singgah di sekolah saya.
Waktu singgahnya tepat pada saat jam istirahat. Menggunakan mobil legendaris, Toyota Kijang kapsul. Jenis mobil yang banyak digunakan untuk kemaslahatan umat di Indonesia ini disulap menjadi mobil yang berisi buku-buku bacaan yang mampu menjangkau setiap sekolah di Jakarta.
Mengaca dari mirisnya indeks membaca tersebut, diperlukan kolaborasi antara teknologi informasi dan sistem literasi. Perkembangan teknologi informasi saat ini seharusnya dijadikan peluang untuk mendorong minat baca.
Di era perkembangan teknologi saat ini, Pemprov DKI Jakarta pada kuartal keempat di tahun 2015 meluncurkan aplikasi iJakarta sebagai upaya meningkatkan minat baca warga Jakarta. Saya rasa, aplikasi ini bukan hanya diperuntukan untuk warga Jakarta saja. Setiap orang yang punya akses internet bisa mendapatkannya dengan cara mengunduhnya lewat gawai berbasis Android, iOS, dan PC.
Apa sih iJakarta itu?
Menurut saya iJakarta adalah kumpulan perpustakaan digital yang berada di lingkup Pemprov DKI Jakarta. Fungsi utamanya adalah tempat meminjam buku digital. Tapi, iJakarta juga punya fungsi yang mungkin tidak dimiliki oleh perpustakaan konvensional. IJakarta berisi perpustakaan-perpustakaan yang berada di lingkup Pemprov DKI Jakarta yang koleksi bukunya terbatas. Kamu juga bisa berkontribusi dengan menyumbangkan buku di perpustakaan digital tertentu yang ada di iJakarta.
IJakarta mampu berfungsi sebagai media sosial juga. Pengguna akun iJakarta bisa follow pengguna iJakarta lainnya.  Selain itu, bisa juga tulis review atau resensi buku yang ada di koleksi iJakarta. Lewat iJakarta, Pemprov DKI Jakarta berniat untuk memberi kemudahan bagi siapapun untuk membaca buku di manapun dan kapanpun.
***
Saya melihat upaya ini bukan hanya untuk mendorong minat baca semata. IJakarta adalah upaya untuk memperkenalkan literasi informasi yang sangat penting digunakan di era misinformasi.
Literasi informasi adalah cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang sesungguhnya. Saat ini banyak beredar informasi-informasi yang tidak jelas sumber dan referensinya. Informasi tersebut sangat diragukan validitas dan keabsahannya, sehingga bisa menimbulkan “sesat pikir”. Informasi yang tidak jelas kebenarannya sangat berbahaya jika yang mengkonsumsinya membagikan informasi invalid tersebut kepada khalayak ramai.
Melalui iJakarta, literasi informasi secara tidak sadar digunakan oleh para penggunanya. Literasi informasi yang jika disadari keuntungannya, maka akan berdampak sangat baik. Penguna iJakarta mampu mencari informasi yang jelas referensi dan validitasnya. Pengguna mampu mencari informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien. IJakarta, diharapkan secara tidak langsung dapat mengurangi perilaku negatif seperti tawuran, clubbing, atau obrolan di kafe tanpa arah diskusi yang jelas,
Pemprov DKI seharusnya membuat koleksi buku di iJakarta lebih banyak lagi. Kuota 5 buku perjudul saya rasa masih kurang untuk memenuhi dahaga literasi warga Jakarta. Koleksi yang diminati adalah novel fiksi. Saya mencoba meminjam, namun berakhir hampa di antrian ke-1100 sekian.
Saya rasa masalah yang dihadapi iJakarta adalah kurang gencarnya promosi yang dilakukan. Perjuangan untuk mendongkrak minat baca adalah satu hal, dan mendorong popularitas iJakarta adalah hal lain. Akan tetapi, saya yakin kedua hal yang berneda itu berkesinambungan dan hasil keluaran yang diinginkan adalah sama. Mewujudkan warga yang memiliki kebudayaan dan minat yang tinggi terhadap kegiatan membaca.
Dengan kolaborasi antara teknologi informasi, literatur, dan promosi yang tepat, saya yakin iJakarta mampu menjadi alternatif untuk mendorong minat membaca. Pengadaan perpustakaan baik yang berwujud keliling atau yang berwujud bangunan seperti gedung atau taman bacaan, tetap harus dilanjutkan.


Artikel di atas ditulis untuk mengikuti lomba konten blog dalam rangka HANJABA (Hari Anak Jakarta Membaca) 2016 yang diselenggarakan oleh Kantor Perpustakaan  dan Arsip Kota Administratif Jakarta Pusat


Sabtu, 18 Juni 2016

MENJADI WONGSOYUDAN DIMULAI DENGAN BERJUANG MELAWAN DIRI SENDIRI

Nama saya Wahyu Putra Ramadhan, seorang mahasiswa FIB UI yang baru menyelesaikan tahun ketiga berkuiah di program studi Arab FIB UI. Tulisan ini bermaksud untuk berbagi, terutama kepada Pandji Pragiwaksono, seorang pekarya multi bidang yang kembali membuat saya tergerak untuk melakukan sesuatu. 

Tulisan ini berbicara tentang "Menjadi Wongsoyudan". Sebuah frase yang saya artikan sebagai individu atau kelompok yang memiliki mimpi, rencana, tujuan, dan semangat juang yang tinggi untuk berkarya. 

Dibalik karya yang dibuat, terdapat perjuangan berupa malawan perasaan takut gagal, melawan berbagai macam ketidakmungkinan, serta konsisten untuk belajar dan bertahan di dalam berbagai kondisi apapun.

Sebelum dilanjutkan lebih jauh, saya ingin bilang bahwa tulisan ini bukan cerita tentang suatu proyek atau hal-hal terencana lainnya. Tulisan ini akan bercerita tentang saya yang masih berkutat dengan perjuangan melawan diri sendiri. 

Perjuangan yang terinspirasi oleh karya-karya Pandji Pragiwaksono. Lewat bukunya, NASIONAL.IS.ME, buku yang mengajak kita untuk lebih mengenal Indonesia yang sebagian isinya bercerita tentang pengalaman Pandji mengunjungi berbagai kota di Indonesia.

Buku tersebut memanggil semua orang untuk menemukan passion, memperdalamnya, jadi ahli di bidang tersebut, dan berkarya untuk dijadikan kontribusi kepada Indonesia.

Sewaktu SD hingga SMA, saya memiliki mimpi untuk menjadi pesepakbola profesional dunia. Saya memilih mimpi tersebut karena saya memiliki minat pada olahraga, khususnya sepakbola. Akan tetapi, seiring waktu berjalan hingga saat ini, saya tidak menemukan wadah atau saluran yang tepat untuk bisa menjembatani saya dengan mimpi tersebut.

Bisa dibilang, saya gagal memperjuangkan mimpi saya sebagai pesepakbola profesional. Kemudian saya mencoba bermimpi kembali.

Dilatarbelakangi oleh kurangnya pengalaman berwisata, saya bukan bermimpi untuk jadi traveller, saya memilih menjadi diplomat. Karena yang terbayang pada saat itu (kelas 3 SMA) adalah saya harus berkuliah di jurusan yang bisa membawa saya berkunjung ke negara lain. Menurut konsultan pendidikan di bimbel, jurusan sastra memiliki kecakapan yang lebih lengkap dibanding jurusan ilmu Hubungan Internasional. Jurusan sastra yang saya pilih adalah Sastra Arab.

Singkat cerita sampai akhir tahun kedua kuliah, saya melihat impian saya untuk menjadi diplomat masih jauh panggang dari api. Saya kembali tidak menemukan saluran yang tepat dan kurang berusaha mencari berbagai informasi kemampuan apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi diplomat.

Saya akui, sebagai mahasiswa saya enggan menyisihkan waktu lebih lama untuk bergabung dalam organisasi, bergabung di UKM, atau berpartisipasi dalam suatu kepanitiaan sebuah acara, kecuali acara jurusan sendiri.

Memasuki paruh kedua di tahun ketiga kuliah, saya mulai memberanikan diri untuk mencoba hal baru. Saya mencoba untuk ikut seleksi lomba debat bahasa Inggris se-fakultas dalam rangka olimpiade ilmiah mahasiswa. 

Saya berhasil melewati tahap seleksi dan menjadi perwakilan prodi Arab untuk berkompetisi dalam lomba debat bahasa Inggris. Singkat cerita, jurusan saya berhasil menjadi runner-up. Kami dikalahkan oleh jurusan Inggris yang tak perlu ditanya lagi kemampuan bahasa dan berdebatnya.

Saya tidak pernah terpikir bisa menjadi runner-up di sebuah kompetisi debat se-fakultas. Target awalnya hanya mencoba hal baru dan syukur-syukur bisa mewakili jurusan.

Saya berasumsi bahwa mimpi yang saya targetkan untuk kompetisi debat tersebut tidak terlalu tinggi, sehingga ketika sudah mencapai babak final, saya mengendurkan perjuangan saya karena sudah puas berada di babak final.

Kompetisi debat tersebut memberikan saya pelajaran bahwa selama ini saya masih kalah terhadap diri saya sendiri yang memiliki EGO, KEMALASAN, dan keinginan yang tinggi yang tidak diiringi dengan perjuangan yang maksimal, sehingga tidak membuahkan hasil. Andai saja saya memiliki target yang tinggi dan berjuan lebih keras lagi mungkin piala juara 1 sudah saya bawa pulang.


Sampai di sini, bisa diambil pelajaran bahwa sesuatu hal yang besar itu harus dimulai dari keinginan. Keinginan tersebut harus direalisasikan dengan cara mencari informasi sebanyak-banyaknya, kemudian belajar dan berlatih untuk mendapatkannya. Mungkin hal ini terbatas untuk suatu hal yang berhubungan dengan perlombaaan.

Mari kita beranjak ke hal yang membuat saya untukmberani bermimpi hal lain yang lebih besar. Saat Pandji rajin mengunggah video-video perjalanan #MBWT, saya menjadi tertarik untuk keliling dunia. Apalagi setelah Pandji meluncurkan buku Menemukan Indonesia, impian tersebut menjadi semakin ingin saya gapai. 

Betapa dunia sudah semakin maju dengan peradaban di masing-masing negara dan juga dengan teknologinya.


Saya menangis setelah menonton video closing #MBWT San Francisco. Bahwa kita harus bangga terhadap hal-hal positif dari Indonesia. Jangan jadikan berbagai kekurangan yang ada sebagai hambatan kita untuk berkarya.

Saya juga menangis ketika membaca pengalaman Pandji berpergian ke Jepang dan menggunakan fasilitsa Pasmo dan Suica. Saya berpikir "kok hal kaya gini aja gue ngga tau ya?" Saya merasa orang yang bodoh dan kudet. Hal yang sepele tapi canggih dan saya tidak mengetahuinya.

Saya menangis.

Sungguh cemen sekali saya. Kemudian, saya menonton vlog Pandji, terutama video saat Pandji sedang tur #JBWT di luar negeri.

Vlog tersebut saya gunakan untuk memupuk semangat juang saya mewujudkan mimpi keliling dunia ke manapun

Kini, saya mengetahui minat saya di bidang olahraga, transportasi, travelling, dan menulis. Saya ingin mengkombinasikan minat-minat saya agar bermanfaat untuk Indonesia.

Perjuangan yang harus saya mulai pertama kali adalah melawan rasa MALAS, PESIMIS, keluar dari ZONA NYAMAN yang sangat menghambat perkembangan soft skills  yang nantinya berpengaruh terhadap mimpi keliling dunia tadi.

Saat ini, saya mencoba berpartisipasi pada kepanitiaan acara yang Insyaa Allah diselenggarakan di luar negeri. Mohon do'a kelancaran dan kesuksesan acara tersebut, ISLC (Indonesia Student Leadership Camp) namanya.

Kemudian bersama teman, saya sedang menyusun makalah untuk diajukan ke sebuah seminar di UNS, Solo.

Saya mulai mnedobrak zona nyaman dan memulai hal-hal baru.  Saya tidak mau lagi menjadi penonton, saya ingin jadi pelaku perubahan.

Sayaberencana memiliki proyek untuk pembinaan atlit-alit muda dan mengembangkan sistem transportasi yang sudah berkembang pesat di luar negeri agar hadir di banyak kota di Indonesia, tidak hanya Jakarta.

Di usia yang sudah seperlima abad ini, saya malu karena ternyata saya masih miskin pengalaman, karya, dan kontribusi. Bahkan untuk dibagi kepada keluarga sendiri.

Salam, Wongsoyudan Takdirnya BERJUANG!