Theodor Seuss, seorang penulis
cerita anak kenamaan asal Amerika Serikat memiliki pernyataan yang cukup
menarik mengenai kegiatan membaca. “The more that you read, the more things
you will know. The more that you learn, the more places you will go.” Singkatnya
saya terjemahkan berikut ini (Semakin sering anda membaca, semakin banyak hal
yang anda tahu. Semakin banyak anda belajar, semakin banyak tempat anda
kunjungi). Theodor Seuss, yang terkenal dengan nama panggung Dr. Seuss,
berpesan kepada khalayak ramai bahwa kegiatan membaca sama sekali bukan
kegiatan yang membosankan.
Membaca adalah awal dari kegiatan
yang menyenangkan.
Di
akhir pernyataannya, Theodor Seuss mengemukakan bahwa seseorang bisa pergi ke
berbagai tempat. Pergi ke berbagai tempat merupakan kegaitan yang mengasyikan
bukan? Akan tetapi, sebelum bisa pergi ke suatu tempat kita butuh informasi
tentang tempat yang akan kita tuju.
Transportasi,
ongkos, tiket, dan hal lainnya adalah hal-hal yang kita dapatkan dengan membaca
informasi. Baik informasi dari majalah, travelogue, blog, dll. Untuk
sekedar berpergian dan melakukan hal yang menyenangkan, agar perjalanan berlangsung
lancar harus dimulai dengan membaca.
Ini
adalah contoh kecil dari besarnya manfaat membaca di kehidupan sehari-hari.
Dikutip
dari tulisan Syahrudin El-Fikri, seorang jurnalis republika.com bahwa hasil
survey UNESCO pada 2011 menunjukan indeks tingkat membaca Indonesia hanya 0,001
persen. Dari 1000 orang, hanya 1 (satu) orang yang memiliki keinginan membaca
secara serius.
Itu data lima tahun yang lalu. Sampai saat ini
saya belum memperoleh data baru dari UNESCO. Hanya mengharapkan angka survey
tersebut menjadi membaik bukanlah sesuatu yang bisa berdampak signifikan.
Perlu
ada usaha, dan perjuangan. Minimal, dimulai dari pribadi masing-masing.
Perjuangan
untuk meningkatkan minat baca menghadapi hal lain, yaitu perkembangan
tekonologi yang semakin pesat. Perkembangan teknologi saat ini membuka dua
kemungkinan:
1. Ancaman
terhadap perjuangan meningkatkan minat baca
2. Peluang
kolaborasi antara literatur dan teknologi terhadap perjuangan meningkatkan
minat baca
Perkembangan
teknologi memungkinkan setiap insan di jagat bumi mendapatkan berbagai hiburan dari
hadirnya televisi, smartphone, laptop, tablet, dll. Lilis seorang yang
bermukim di Ciamis, melalui gawai dalam bentuk ponsel pintar yang juga memiliki
koneksi internet dapat dengan mudah mengakses video drama Korea.
Cara menikmatinya bisa mengakses laman YouTube
atau laman lainnya yang bahkan menawarkan unduhan agar bisa menabung video
tersebut untuk ditonton setelah pulang sekolah. Teknologi memungkinkan
seseorang untuk mengakses konten apapun dengan mudah. Ilustrasi tadi hanyalah
contoh jika kita melihat perkembangan teknologi dari perspektif “ancaman”.
Lain halnya dengan Donni, seorang pegawai di
sebuah bank di Jakarta Ia lebih sering membaca berita, buku digital, dan blog,
tentang dunia perbankan melalui gawai dan perangkat komputer di kantornya.
Kedua
ilustrasi di atas tidak bermaksud menggambarkan kondisi penggunaan teknologi
saat ini secara menyeluruh. Akan tetapi, kedua contoh di atas merupakan contoh
kebanyakan yang terjadi di era global saat ini. Diperlukan berbagai macam usaha
agar tendensi penggunaan berbagai perangkat teknologi yang ada pada saat ini,
mampu untuk meningkatkan minat baca.
Saya
akan mencoba menguraikan usaha Pemprov DKI Jakarta untuk meningkatkan minat
baca warganya.
Saya
mencoba untuk mencari data mengenai indeks baca di berbagai kota di Indonesia.
Saya ingin mengambil contoh dari indeks membaca di wilayah Jakarta. Dilansir
dari laman bpadjakarta.net, saya malah mendapatkan indeks untuk wilayah
Yogyakarta. Warga Yogyakarta memiliki indeks tertinggi di Indonesia, sebesar
0,09 persen. Pantas jika Yogyakarta dijuluki sebagai “Kota Pelajar”.
Anehnya,
saya tidak mendapatkan indeks membaca wilayah Jakarta di situs yang dikelola
oleh Pemprov DKI Jakarta. Saya berasumsi indeks membaca untuk wilayah Jakarta
di atas 0,05. Angka-angka tersebut masih jauh dari indeks membaca negara-negara
maju yang mencapai 0,45.
Berbagai
inovasi dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mendorong minat baca
warganya. Saya masih ingat sewaktu duduk di bangku sekolah dasar dulu setiap
hari Selasa ada mobil perpustakaan keliling yang singgah di sekolah saya.
Waktu
singgahnya tepat pada saat jam istirahat. Menggunakan mobil legendaris, Toyota
Kijang kapsul. Jenis mobil yang banyak digunakan untuk kemaslahatan umat di
Indonesia ini disulap menjadi mobil yang berisi buku-buku bacaan yang mampu
menjangkau setiap sekolah di Jakarta.
Mengaca
dari mirisnya indeks membaca tersebut, diperlukan kolaborasi antara teknologi
informasi dan sistem literasi. Perkembangan teknologi informasi saat ini seharusnya
dijadikan peluang untuk mendorong minat baca.
Di
era perkembangan teknologi saat ini, Pemprov DKI Jakarta pada kuartal keempat
di tahun 2015 meluncurkan aplikasi iJakarta sebagai upaya meningkatkan
minat baca warga Jakarta. Saya rasa, aplikasi ini bukan hanya diperuntukan
untuk warga Jakarta saja. Setiap orang yang punya akses internet bisa
mendapatkannya dengan cara mengunduhnya lewat gawai berbasis Android, iOS, dan
PC.
Apa
sih iJakarta itu?
Menurut
saya iJakarta adalah kumpulan perpustakaan digital yang berada di lingkup
Pemprov DKI Jakarta. Fungsi utamanya adalah tempat meminjam buku digital. Tapi,
iJakarta juga punya fungsi yang mungkin tidak dimiliki oleh perpustakaan
konvensional. IJakarta berisi perpustakaan-perpustakaan yang berada di lingkup
Pemprov DKI Jakarta yang koleksi bukunya terbatas. Kamu juga bisa berkontribusi
dengan menyumbangkan buku di perpustakaan digital tertentu yang ada di
iJakarta.
IJakarta
mampu berfungsi sebagai media sosial juga. Pengguna akun iJakarta bisa follow
pengguna iJakarta lainnya. Selain
itu, bisa juga tulis review atau resensi buku yang ada di koleksi
iJakarta. Lewat iJakarta, Pemprov DKI Jakarta berniat untuk memberi kemudahan
bagi siapapun untuk membaca buku di manapun dan kapanpun.
***
Saya
melihat upaya ini bukan hanya untuk mendorong minat baca semata. IJakarta
adalah upaya untuk memperkenalkan literasi informasi yang sangat penting
digunakan di era misinformasi.
Literasi
informasi adalah cara yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang
sesungguhnya. Saat ini banyak beredar informasi-informasi yang tidak jelas
sumber dan referensinya. Informasi tersebut sangat diragukan validitas dan
keabsahannya, sehingga bisa menimbulkan “sesat pikir”. Informasi yang tidak
jelas kebenarannya sangat berbahaya jika yang mengkonsumsinya membagikan
informasi invalid tersebut kepada khalayak ramai.
Melalui
iJakarta, literasi informasi secara tidak sadar digunakan oleh para
penggunanya. Literasi informasi yang jika disadari keuntungannya, maka akan
berdampak sangat baik. Penguna iJakarta mampu mencari informasi yang jelas
referensi dan validitasnya. Pengguna mampu mencari informasi yang dibutuhkan
secara efektif dan efisien. IJakarta, diharapkan secara tidak langsung dapat
mengurangi perilaku negatif seperti tawuran, clubbing, atau obrolan di kafe
tanpa arah diskusi yang jelas,
Pemprov
DKI seharusnya membuat koleksi buku di iJakarta lebih banyak lagi. Kuota 5 buku
perjudul saya rasa masih kurang untuk memenuhi dahaga literasi warga Jakarta. Koleksi
yang diminati adalah novel fiksi. Saya mencoba meminjam, namun berakhir hampa
di antrian ke-1100 sekian.
Saya
rasa masalah yang dihadapi iJakarta adalah kurang gencarnya promosi yang
dilakukan. Perjuangan untuk mendongkrak minat baca adalah satu hal, dan
mendorong popularitas iJakarta adalah hal lain. Akan tetapi, saya yakin kedua
hal yang berneda itu berkesinambungan dan hasil keluaran yang diinginkan adalah
sama. Mewujudkan warga yang memiliki kebudayaan dan minat yang tinggi terhadap
kegiatan membaca.
Dengan
kolaborasi antara teknologi informasi, literatur, dan promosi yang tepat, saya
yakin iJakarta mampu menjadi alternatif untuk mendorong minat membaca.
Pengadaan perpustakaan baik yang berwujud keliling atau yang berwujud bangunan
seperti gedung atau taman bacaan, tetap harus dilanjutkan.
Artikel
di atas ditulis untuk mengikuti lomba konten blog dalam rangka HANJABA (Hari
Anak Jakarta Membaca) 2016 yang diselenggarakan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Administratif Jakarta Pusat
