Bicara tentang transportasi umum, gue mau cerita tentang moda
transportasi yang sedang gue gandrungi sekitar 3 tahun belakangan. Btw, ini
adalah bagian pertama tulisan gue yang
bicara tentang transportasi umum, Mulai dari KRL, kereta jarak jauh, terus
pesawat terbang J
Dimulai dari medio 2013. Saat itu gue baru lulus dari SMA. Singkat
cerita, gue berkuliah di kampus yang sebagian besar warganya pakai KRL sebagai
transportasi utama menuju kampus.
Pertama
kali naik KRL, itu waktu SD. Pintunya kebuka (baca: gak berfungsi), tukang sapu
berkeliaran, pengemis, dan segalah hal menyedihkan lainnya ada di dalam KRL. Naik
KRL ke rumah budeh yang ada di Bekasi. Pernah juga naik KRL dari Kota setelah
sebelumnya nyobain Transjakarta dari Blok M.
Momen
daftar ulang ke kampus di Juli 2013 itu sekaligus mempertemukan gue lagi dengan
KRL. Sebelumnya, gue nggak terlalu sering naik KRL. Apa lagi saat SMP dan SMA. Sekolah
gue dulu cukup dijangkau dengan angkot dan metro mini seakan memisahkan gue
dengan KRL. Mungkin teman gue pas SMP dan SMA yang bertempat tinggal di
Bintara, Cakung, dan Bekasi lebih meresap di kenangannya tentang perjuangan
naik KRL.
Singkat
cerita, setelah beberapa kali pergi-pulang dari rumah ke kampus naik KRL gue
mulai browsing tentang KRL. Mulai dari jenis kereta apa saja yang pernah
melintas di atas rel Jabodetabek, hingga sejarah KRL dari tahun 1970. Nah,
jenis-jenis KRL ini yang paling membuat gue penasaran. Ada yang buatan Belanda,
Korea, Jepang, hingga kereta buatan Indonesia.
Cerita
dari kereta buatan Belanda. Namanya KRL Holec. Yang paling gue ingat dari KRL
ini adalah suku cadangnya yang sulit didapat sehingga dipensiunkan lebih awal
daripada kereta veteran lainnya. Terus ada kereta dari Jepang. Our truly (dump)
partner in electric train universe. Kereta buatan Jepangjadi kereta non AC
terakhir yang digunakan PT KCJ. Medio 2013 (sebelum gue masuk kuliah) PT KCJ memutuskan untuk mengganti semua rangkaian
non AC ke rangkaian AC.
Kemudian
nonton banyak video tentang KRL di Jakarta. Sampai ada juga kereta di daerah
yang fungsinya sama seperti di Jabodetabek. Tapi bedanya di daerah lebih banyak
pakai KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik). Gue nontonin semua jenis kereta AC yang
ada di Jabodetabek.
Saat
ini, pertumbuhan KRL bisa dibilang cukup pesat. Mulai dari armada, stasiun, dan
fasilitas lainnya. Di Cikarang, Bekasi, Cipinang, hingga Manggarai juga lagi
ada proyek DDT (double-double track). Entah kenapa pemilihan katanya kaya gitu.
Emangnya pimpinan proyeknya pada gak tau
apa bahwa DDT itu racun serangga?
Intinya,
gue merasa kalua KRL itu bukan hanya sekedar kereta yang digunakan untuk
mindahin ribuan manusia dari satu tempat ke tempat lain. Senin-Jumat, setiap
orang pemakai rutin KRL pasti menghabiskan waktu 30 menit sampai 1,5 jam di
stasiun maupun di dalam kereta, Ambil rerata dua jam (pergi dan pulang) selama
lima hari. Sepuluh jam per pekan lo di dalam KRL. Setidaknya lo bisa lebih
menghargai kehadiran mereka yang bukan sekedar alat transportasi.
PS:
Gue sempat membuat makalah tentang KRL Jabodetabek sebagai tugas akhir mata
kuliah Bahasa Indonesia Akademik. Yaa hitung-hitung sebagai rasa penghargaan
gue buat KRL.
Yang tertarik mau baca makalah gue tentang KRL, silahkan kontak gue di: wahyuputra191@gmail.com