Nama saya Wahyu Putra Ramadhan, seorang mahasiswa FIB UI yang baru menyelesaikan tahun ketiga berkuiah di program studi Arab FIB UI. Tulisan ini bermaksud untuk berbagi, terutama kepada Pandji Pragiwaksono, seorang pekarya multi bidang yang kembali membuat saya tergerak untuk melakukan sesuatu.
Tulisan ini berbicara tentang "Menjadi Wongsoyudan". Sebuah frase yang saya artikan sebagai individu atau kelompok yang memiliki mimpi, rencana, tujuan, dan semangat juang yang tinggi untuk berkarya.
Dibalik karya yang dibuat, terdapat perjuangan berupa malawan perasaan takut gagal, melawan berbagai macam ketidakmungkinan, serta konsisten untuk belajar dan bertahan di dalam berbagai kondisi apapun.
Sebelum dilanjutkan lebih jauh, saya ingin bilang bahwa tulisan ini bukan cerita tentang suatu proyek atau hal-hal terencana lainnya. Tulisan ini akan bercerita tentang saya yang masih berkutat dengan perjuangan melawan diri sendiri.
Perjuangan yang terinspirasi oleh karya-karya Pandji Pragiwaksono. Lewat bukunya, NASIONAL.IS.ME, buku yang mengajak kita untuk lebih mengenal Indonesia yang sebagian isinya bercerita tentang pengalaman Pandji mengunjungi berbagai kota di Indonesia.
Buku tersebut memanggil semua orang untuk menemukan passion, memperdalamnya, jadi ahli di bidang tersebut, dan berkarya untuk dijadikan kontribusi kepada Indonesia.
Sewaktu SD hingga SMA, saya memiliki mimpi untuk menjadi pesepakbola profesional dunia. Saya memilih mimpi tersebut karena saya memiliki minat pada olahraga, khususnya sepakbola. Akan tetapi, seiring waktu berjalan hingga saat ini, saya tidak menemukan wadah atau saluran yang tepat untuk bisa menjembatani saya dengan mimpi tersebut.
Bisa dibilang, saya gagal memperjuangkan mimpi saya sebagai pesepakbola profesional. Kemudian saya mencoba bermimpi kembali.
Dilatarbelakangi oleh kurangnya pengalaman berwisata, saya bukan bermimpi untuk jadi traveller, saya memilih menjadi diplomat. Karena yang terbayang pada saat itu (kelas 3 SMA) adalah saya harus berkuliah di jurusan yang bisa membawa saya berkunjung ke negara lain. Menurut konsultan pendidikan di bimbel, jurusan sastra memiliki kecakapan yang lebih lengkap dibanding jurusan ilmu Hubungan Internasional. Jurusan sastra yang saya pilih adalah Sastra Arab.
Singkat cerita sampai akhir tahun kedua kuliah, saya melihat impian saya untuk menjadi diplomat masih jauh panggang dari api. Saya kembali tidak menemukan saluran yang tepat dan kurang berusaha mencari berbagai informasi kemampuan apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi diplomat.
Saya akui, sebagai mahasiswa saya enggan menyisihkan waktu lebih lama untuk bergabung dalam organisasi, bergabung di UKM, atau berpartisipasi dalam suatu kepanitiaan sebuah acara, kecuali acara jurusan sendiri.
Memasuki paruh kedua di tahun ketiga kuliah, saya mulai memberanikan diri untuk mencoba hal baru. Saya mencoba untuk ikut seleksi lomba debat bahasa Inggris se-fakultas dalam rangka olimpiade ilmiah mahasiswa.
Saya berhasil melewati tahap seleksi dan menjadi perwakilan prodi Arab untuk berkompetisi dalam lomba debat bahasa Inggris. Singkat cerita, jurusan saya berhasil menjadi runner-up. Kami dikalahkan oleh jurusan Inggris yang tak perlu ditanya lagi kemampuan bahasa dan berdebatnya.
Saya tidak pernah terpikir bisa menjadi runner-up di sebuah kompetisi debat se-fakultas. Target awalnya hanya mencoba hal baru dan syukur-syukur bisa mewakili jurusan.
Saya berasumsi bahwa mimpi yang saya targetkan untuk kompetisi debat tersebut tidak terlalu tinggi, sehingga ketika sudah mencapai babak final, saya mengendurkan perjuangan saya karena sudah puas berada di babak final.
Kompetisi debat tersebut memberikan saya pelajaran bahwa selama ini saya masih kalah terhadap diri saya sendiri yang memiliki EGO, KEMALASAN, dan keinginan yang tinggi yang tidak diiringi dengan perjuangan yang maksimal, sehingga tidak membuahkan hasil. Andai saja saya memiliki target yang tinggi dan berjuan lebih keras lagi mungkin piala juara 1 sudah saya bawa pulang.
Sampai di sini, bisa diambil pelajaran bahwa sesuatu hal yang besar itu harus dimulai dari keinginan. Keinginan tersebut harus direalisasikan dengan cara mencari informasi sebanyak-banyaknya, kemudian belajar dan berlatih untuk mendapatkannya. Mungkin hal ini terbatas untuk suatu hal yang berhubungan dengan perlombaaan.
Mari kita beranjak ke hal yang membuat saya untukmberani bermimpi hal lain yang lebih besar. Saat Pandji rajin mengunggah video-video perjalanan #MBWT, saya menjadi tertarik untuk keliling dunia. Apalagi setelah Pandji meluncurkan buku Menemukan Indonesia, impian tersebut menjadi semakin ingin saya gapai.
Betapa dunia sudah semakin maju dengan peradaban di masing-masing negara dan juga dengan teknologinya.
Saya menangis setelah menonton video closing #MBWT San Francisco. Bahwa kita harus bangga terhadap hal-hal positif dari Indonesia. Jangan jadikan berbagai kekurangan yang ada sebagai hambatan kita untuk berkarya.
Saya juga menangis ketika membaca pengalaman Pandji berpergian ke Jepang dan menggunakan fasilitsa Pasmo dan Suica. Saya berpikir "kok hal kaya gini aja gue ngga tau ya?" Saya merasa orang yang bodoh dan kudet. Hal yang sepele tapi canggih dan saya tidak mengetahuinya.
Saya menangis.
Sungguh cemen sekali saya. Kemudian, saya menonton vlog Pandji, terutama video saat Pandji sedang tur #JBWT di luar negeri.
Vlog tersebut saya gunakan untuk memupuk semangat juang saya mewujudkan mimpi keliling dunia ke manapun
Kini, saya mengetahui minat saya di bidang olahraga, transportasi, travelling, dan menulis. Saya ingin mengkombinasikan minat-minat saya agar bermanfaat untuk Indonesia.
Perjuangan yang harus saya mulai pertama kali adalah melawan rasa MALAS, PESIMIS, keluar dari ZONA NYAMAN yang sangat menghambat perkembangan soft skills yang nantinya berpengaruh terhadap mimpi keliling dunia tadi.
Saat ini, saya mencoba berpartisipasi pada kepanitiaan acara yang Insyaa Allah diselenggarakan di luar negeri. Mohon do'a kelancaran dan kesuksesan acara tersebut, ISLC (Indonesia Student Leadership Camp) namanya.
Kemudian bersama teman, saya sedang menyusun makalah untuk diajukan ke sebuah seminar di UNS, Solo.
Saya mulai mnedobrak zona nyaman dan memulai hal-hal baru. Saya tidak mau lagi menjadi penonton, saya ingin jadi pelaku perubahan.
Sayaberencana memiliki proyek untuk pembinaan atlit-alit muda dan mengembangkan sistem transportasi yang sudah berkembang pesat di luar negeri agar hadir di banyak kota di Indonesia, tidak hanya Jakarta.
Di usia yang sudah seperlima abad ini, saya malu karena ternyata saya masih miskin pengalaman, karya, dan kontribusi. Bahkan untuk dibagi kepada keluarga sendiri.
Salam, Wongsoyudan Takdirnya BERJUANG!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar